laporan buy nothing weekend

saya suka menjalankan berbagai proyek dan eksperimen pribadi untuk melihat bagaimana diri saya merespon terhadap kondisi-kondisi tertentu. dari eksperimen tidak tidur hingga batas waktu yang tidak ditentukan (konon manusia bisa bertahan tidak tidur hingga sembilan hari. sejauh ini saya cuma sanggup hingga dua hari), jalan kaki dari jl. kaliurang km 4 menuju mal malioboro ketika di yogyakarta, menentukan target membaca harian, hingga ikut-ikutan bikin proyek 26 before 27 yang kemudian mengalami kegagalan yang luar biasa itu (hahaha). melalui berbagai proyek dan eksperimen pribadi itu, saya jadi semakin mengenal diri saya sendiri yang saking absurdnya sampai saya sendiri tidak mengerti.

akhir pekan ini saya kembali melakukan sebuah eksperimen yaitu menjalankan semacam buy nothing weekend. ini benar-benar spin-off kasar dari buy nothing day yang saya sendiri lupa entah kapan persisnya itu. selain karena ingin menabung, tantangan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan saya terhadap fenomena konsumerisme yang sangat intens di sekeliling saya. sepanjang jalan menuju tempat beraktivitas, kita dibombardir berbagai iklan himbauan untuk belanja. lingkaran pergaulan kerap menjadikan kegiatan belanja sebagai tiang bahkan fondasi hubungan antar manusia. gak belanja gak gaul. gak jajan gak asik. gak bisa hidup tanpa belanja. tidak pernah cukup memiliki beberapa setel pakaian, tas atau sepatu. fenomena yang sakit.

ada apa dengan kegiatan belanja? kenapa banyak di antara kita yang gak bisa hidup tanpa belanja? masa iya sih kita gak bisa meninggalkan makanan cepat saji yang kaya akan radikal bebas dan harganya nggak seramah makanan rumahan? bisa nggak sih kita, terutama penghuni kota, keluar dari lingkup konsumerisme? hingga kemudian saya penasaran dengan bagaimana rasanya jika akhir pekan ini saya jalankan tanpa membeli apa pun. buy nothing weekend. bring it on!

sabtu yang cerah. kebetulan saya masih punya tugas dari kantor yang harus diselesaikan dan dikirim hari minggu. saya menyibukkan diri dengan tugas tersebut, dan membaca berbagai hal yang menarik. kesempatan yang baik untuk sejenak melupakan konsep belanja. pagi itu pun saya mendapat rejeki berupa nasi uduk gratis yang enak dan menyenangkan. menjelang siang, saya menyadari betapa sebenarnya makanan di rumah masih cukup melimpah dan bisa mendukung saya bertahan hidup tanpa belanja makanan lagi selama beberapa hari. stok teh juga sungguh melimpah hingga tidak perlu benar rasanya ngelayap ke kedai untuk membeli minuman enak. dasar bocah tua nakal yang beruntung.

sabtu itu saya tidak merasakan hambatan yang berarti, meskipun tidak berarti pula saya sama sekali tidak merasakan cobaan yang sungguh menggemaskan. berikut adalah hal-hal tersebut:

hari minggu saya lalui dengan lebih baik. saya tidur tidak sebanyak yang saya kira. beberapa saat setelah saya terbangun, saya ditelpon untuk kembali menyunting tugas yang saya kerjakan di hari sebelumnya. saya membaca dan tertidur. saya menemukan sebungkus susu jahe di pedalaman stok bahan minuman di dapur. saya tidak belanja dan saya baik-baik saja.

satu hal yang membuat saya sempat gundah adalah ketika saya menyadari betapa bantalan baterai komputer saya sudah memuai dan membuatnya terlihat cukup jelek dari luar. karena komputer ini model yang sudah cukup lama, saya ragu apakah masih ada yang menjual baterai cadangan yang kompatibel untuknya. pikiran untuk membeli komputer baru sungguhlah drastis dan membuat saya agak sedih. hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk bertahan dengan komputer ini karena toh fungsi internalnya masih sangat cantik dan romantis.

hari minggu hampir berlalu dan beberapa jam lagi saya harus kembali beraktivitas di tempat kerja yang sarat godaan konsumeris. saya mulai kembali merenungkan tentang langkah-langkah apa saja yang dapat saya lakukan sehari-hari untuk menekan kebutuhan akan belanja apalagi jajan. bagi yang belum terbiasa, melawan konsumerisme bukanlah hal yang mudah. jadi, perlu dilatih dan dimulai dari sekarang. langkah selanjutnya yang perlu dilakukan mungkin adalah dengan menjadi lebih mindful dalam menjalani keseharian. kenapa saya merasa butuh belanja atau jajan? apa yang sebenarnya saya perlukan? apa saya bisa hidup tanpa jajan hari ini? 

Advertisements
This entry was posted in keseharian, kontemplasi dodol. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s